Punya Naskah dan Mau Menerbitkannya?

Beberapa teman pernah bertanya tentang cara memasukkan naskah kepada penerbit. Banyak di antara mereka yang beranggapan bahwa penerbit itu memisahkan diri dari para penulis, memosisikan diri lebih tinggi, sehingga, untuk menjangkaunya, penulis harus memiliki berbagai kehebatan. Ini salah besar, sebenarnya penerbit sangat membutuhkan naskah buku. Jadi, jika kita telah merampungkan sebuah naskah, jangan ragu-ragu untuk mengirimkannya kepada penerbit.

Sekarang, masalahnya, ke penerbit mana naskah tersebut kita kirimkan? Kita bisa mempelajari “gaya” penerbit dan tema yang dibidik melalui buku-buku yang diterbitkannya. Setelah tahu, kita tinggal menyesuaikan naskah kita dengan standar penerbit yang kita targetkan, misalnya mengenai jumlah halaman, bentuk naskah (file atau print out), dengan berbagai kekhasan lainnya. Mengenai hal ini, kita bisa meminta informasi dari penerbit, biasanya penerbit akan dengan senang hati menginformasikannya kepada kita.

Setelah itu siap, apa lagi? Sudah, langsung dikirim saja dan tunggu kabar dari penerbit. Mudah, bukan?

Jika masih kesulitan, ini saya kirimkan beberapa informasi mengenai permintaan naskah buku:

  1. Insistpress (tema bebas)
  2. Gelar Semesta Aksara (buku populer), silakan masuk ke account Facebook Anda dan cari Gelar Semesta Aksara.
  3. AgroMedia Pustaka (buku pertanian)

Itu baru contoh, penerbit lain, silakan browsing sendiri ya.

Menulis Catatan Harian

Catatan harian? Jangan salah, banyak sekali kisah menarik yang berawal dari catatan harian. Tidak percaya? Kita telah menyaksikan buku Detik-Detik yang Menentukan yang berasal dari catatan harian B.J. Habibie, kita pun telah menyaksikan penerbitan dan penerjemahan buku Catatan Harian Anne Frank. Saya yakin, begitu banyak buku-buku lain, baik yang diterbitkan persis seperti catatan hariannya, maupun yang disadur menjadi novel, cerpen, puisi, atau bentuk-bentuk lain. Bisa jadi, suatu saat kelak, catatan harian Anda yang akan dibukukan, sebab, siapa tahu, Anda akan menjadi orang terkenal suatu saat nanti.

Sekarang permasalahannya, bagaimana agar catatan harian kita informatif dan menarik? Sebenarnya, catatan harian itu tidak jauh berbeda dengan berita, tidak jauh berbeda pula dengan tulisan feature. Bahkan, menurut saya, catatan harian itu gabungan antara berita dan feature, hanya saja publikasinya di buku harian kita sendiri (mulai sekarang, di blog!). Lalu, apa saja yang harus kita catat? Sesuai dengan standar berita, yang menjadi panduan kita dalam menulis buku harian adalah 5W1H, yaitu When, Where, Who, What, Why dan How, dalam bahasa Indonesia apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Panduan ini penting, sebab tulisan kita tidak akan informatif jika pembaca tidak tahu apa yang kita tulis, siapa tokohnya, bagaimana kejadiannya, dan sebagainya. Setelah 5W1H, seperti feature, kita bisa menyelipkan opini kita sendiri, bahkan dalam buku harian, tidak ada yang mengatur seberapa dominannya opini kita.

Catatan harian ini, sebaiknya (tidak harus), dibuat fokus, misalnya catatan harian tentang aktivitas kita selama menjadi petani kelapa sawit, selama menjadi editor, dan sebagainya. Tujuannya, ini bisa saja kelak menjadi panduan orang-orang yang seprofesi dengan kita.

Terakhir, perlu diingat, untuk catatan yang sangat rahasia, sebaiknya tidak perlu dipublikasikan di blog. Andai pun, catatan itu akan ditulis di blog, sebaiknya di-private saja.

Blogger Harus Olahraga

Haha, ini postingan aneh, ngapain sampai ngurusin masalah olahraga? Dibilang aneh, saya setuju saja, sebab ini lebih kepada nasihat untuk diri sendiri. Sebagai pengguna komputer, apalagi sebagai seorang blogger, kita kerap lupa waktu. Biasanya, ketika kesibukan lain selesai, pikiran seorang blogger akan langsung ke komputer dan online. Tidak hanya itu, malamnya pikiran ya online, paginya pun begitu, dengan alasan yang mungkin khas sesuai karakteristik keadaan tersebut.

Coba, bayangkan, bangun pagi (kalau tidak kesiangan, tipikal blogger adalah tidur larut bangun siang), bagi yang muslim salat Subuh, terus apa yang dipikirkan? Ya, ini waktu baik untuk online, akses sedang cepat karena pengguna internet tidak sepadat sore hari. Begitulah sampai pekerjaan lain menyundul. Kemudian, berangkat kerja. Setelah itu, sehabis istirahat, apa? Online lagi, cek ini cek itu, edit ini edit itu, posting ini posting itu. Sore harinya, sama saja. Malam harinya, walaupun internet agak lambat, ya online juga, makin malam makin asyik. Jadi, tidak ada kesempatan untuk meregangkan tubuh. Bersyukur bagi yang pekerjaannya butuh gerak, misalnya petani, atau yang lain. Bagi yang pekerjaannya juga di depan komputer? Dapat dibayangkan betapa tebal kulit pantatnya.

Sebab itu, mari, mulai esok hari kita sempatkan sekadar menggerakan tubuh, agar lebih fresh, lebih banyak ide. Kalau raga sehat, jiwa juga sehat. Konon. Dan, saya kira itu benar.

Menulis pada Segala Situasi

Saya sudah tidak menulis, sibuk. Saya tidak bisa menulis, banyak gangguan. Saya tidak bisa menulis, anak-anak rewel. Saya tidak bisa menulis, banyak tugas kuliah. Saya tidak bisa menulis, banyak PR. Saya yakin, Anda pun memiliki alasan sendiri untuk tidak menulis.

Manajemen waktu itu, bukan hanya bagaimana cara kita menghindarkan diri dari segala situasi yang bisa menghalangi kita, melainkan juga bagaimana cara kita mengatasi situasi yang tidak menguntungkan dan tetap produktif dalam situasi tersebut.

Saat saya menuliskan tulisan ini (pukul 07.23 WIB), anak-anak saya sedang libur dan pukul 09.00 WIB nanti saya harus berangkat ke tempat kerja. Sementara itu, istri saya sudah lebih dahulu berangkat. Nyatanya, tulisan ini terposting juga, kan?

Saya menulis sedikit demi sedikit, saat anak butuh perhatian, saya memperhatikan mereka, setelah mereka puas, saya kembali menulis. Tentu saja, untuk hal ini, sebaiknya kita menggunakan koneksi internet unlimited. Sekarang internet sudah murah, apalagi untuk Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya.

Sekian dulu, mungkin tidak terlalu bermanfaat. Yang penting, ini sudah membuktikan bahwa kita bisa menulis dalam semua situasi. Tulisan ini salah satu buktinya. Ingat, manusia itu dianugerahi Tuhan dengan kemampuan menyesuaikan diri yang sangat bagus. Jadi, manfaatkanlah!

Nge-Blog Menggunakan Outlook Express

Koneksi internet Anda lambat? Sama, koneksi intenet saya juga lambat, terutama pada jam-jam sibuk. Walupun begitu, bukan artinya kita harus berhenti nge-blog, kan?

Blog saya menggunakan jasa gratisan WordPress. Anda tahu sendiri, dengan koneksi yang pas-pasan, login dan mengakses Dasbor WordPress sangat sulit. Mengatasi hal ini, saya postingnya menggunakan Outlook Ekspress, program untuk aktivitas ber-e-mail yang disediakan oleh Microsoft.

Untuk dapat posting menggunakan Outlook Express, kita tinggal masuk ke dasbor >> blogku. Di sana ada fasilitas untuk mengkaktifkan posting lewat e-mail. Tinggal diaktifkan saja dan kita akan mendapat e-mail untuk posting. Setelahnya, kita langsung bisa posting ke blog WordPress dengan cara mengirim e-mail ke alamat yang kita dapat melalui menu blogku tadi.

Sebagai catatan, untuk dapat menjalankan program ini, kita harus memiliki account e-mail yang menyediakan fasilitas POP3. Biasanya, yang menyediakan adalah e-mail berbayar. Yang gratis, setahu saya adalah Gmail untuk semua koneksi, dan Telkom.net untuk koneksi menggunakan Telkom sendiri.