Sabjan Badio
Berlalunya tahun 2011 ditanggapi beragam oleh manusia Indonesia, ada yang merayakannya dengan kembang api, bakar jagung, ada pula yang merayakannya dengan membuat perencanaan-perencanaan untuk tahun 2012. Sah-sah saja, apa pun yang kita lakukan, sepanjang dibolehkan oleh agama, negara, dan tidak melanggar hak orang lain, saya kira bebas merdeka.
Saya sendiri merayakan malam pergantian tahun, dari tahun 2011 ke tahun 2012, dengan tidur pulas mempersiapkan energi untuk esok hari. Pada 1 Januari 2012, saya bersama keluarga ikut bakar jagung, senyampang banyak yang menjual jagung untuk dibakar.
Itu secara lahiriah, di dalam benak, ada hal lain yang berkecamuk, yaitu tentang tahun 2012, apa dan bagaimana dengan tahun 2012 nantinya. Alih-alih memikirkan kiamat, saya memikirkan aktivitas saya di tahun 2012.
Sehari-hari, saya bekerja sebagai guru. Seorang guru pastilah harus selalu mendapatkan informasi terbaru, terutama di bidang perkembangan ilmu pengetahuan. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk meng-upadate informasi, di antaranya berlangganan koran, majalah, dan membeli buku. Akan tetapi, jika menyinggung biaya, berlangganan koran dan majalah dalam negeri saja sudah membutuhkan biaya besar, apalagi jika harus berlangganan media dari seluruh dunia. Hal paling efektif dan murah untuk itu hanyalah internet yang cepat, stabil, dan berbiaya akses murah.
Memasyarakatnya internet, membuat perusahaan media berlomba-lomba menyediakan situs. Tidak jarang mereka menyajikan informasi secara gratis kepada setiap pengguna internet dari seluruh dunia. Perkembangan selanjutnya, tidak saja wartawan konvensional yang ikut berkontribusi dalam penyampaian informasi, masyarakat kebanyakan pun ikut berkontribus melalui media bersistem citizen journalism. Tidak mau ketinggalan dengan media mainstream, masyarakat kebanyakan pun meng-unggah informasi melalui media milik mereka sendiri, yang kemudian kita kenal dengan “julukan” self publishing. Yang terakhir ini kemudian dikenal dengan istilah blog untuk medianya dan blogger atau narablog untuk orangnya.
Peran sentral internet semakin terasa dengan meningkatnya aktivitas bisnis online, mulai internet banking, tokoh online, sampai sistem pembayaran online. Menurut catatan Kompas.com (10/11/2011), seperempat dari pengguna internet memiliki alat untuk e-payment.
Seiring dengan perkembangan tersebut, koneksi internet semakin penting dan dibutuhkan. Perusahaan pun mulai berlomba untuk menyediakan koneksi internet sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mulai pengguna keluarga, lembaga pendidikan, perusahaan, sampai pemerintah. Masyarakat usaha kecil pun ikut berkontribusi dengan membangun warnet (warung internet), yang secara tidak langsung merupakan perpanjangan dari perusahaan menyedia jaringan internet.
Data MarkPlus Insight menyatakan pada tahun 2011 lalu, diperkirakan ada 55 juta pengguna internet di Indonesia (Kompas.com, 25/11/2011). Pada tahun 31 Desember 2010 saja penduduk Indonesia sudah mencapai 259.940.857 (Kompas.com, 19/09/2011). Jika satu keluarga terdiri atas 5 orang, berarti 52 juta koneksi internet yang dibutuhkan untuk keluarga Indonesia.
Angka yang besar tentunya. Walaupun begitu, diyakini perusahaan komunikasi di Indonesia akan sangggup melayani hal tersebut. Teknologi informasi telah mampu menjangkau daerah-daerah yang sulit sehingga keadaan geografis Indonesia yang berupa kepulauan tidaklah menjadi kendala lagi. Tinggal dibutuhkan perusahaan berkelas nasional yang telah memiliki teknologi dan infrastruktur yang dibutuhkan, kebijakan pemerintah, dan kesadaran masyarakat.
Jika mimpi untuk mewujudkan satu rumah satu internet terlalu sulit, paling tidak semua keluarga yang di antara anggota keluarganya membutuhkan internet untuk beraktivitas, pada tahun 2012 mendapat peluang untuk memiliki koneksi internet sendiri.
Mungkinkah itu terwujud? Mengapa tidak? Apa yang tidak mungkin di zaman pesatnya perkembangan teknologi ini? Yang jauh jadi dekat, yang besar bisa jadi kecil, bahkan yang mahal pun bisa jadi sangat murah. Jika seluruh siswa saya telah memiliki koneksi internet sendiri, dapat dibayangkan lompatan sistem pembelajaran yang dapat dilakukan.


